Sabtu, 17 Oktober 2020

KONSELING BEHAVIORAL

 Ditulis Oleh: Wahid Suharmawan

Menurut American School Conselor Assosiation (ASCA), konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien, konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu kliennya dalam mengatasi maslahmasalahnya (Juntika, 2003).

Sedangkan behavior, behavioral atau behaviorisme adalah satu pandangan teoritis yang beranggapan, bahwa persoalan psikologi adalah tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepsi-konsepsi mengenai kesadaran dan mentalitas (Chaplin, 2002). Teori behavioristik dapat menangani kompleksitas masalah klien mulai dari kegagalan individu untuk belajar, merespon secara adaptif hingga mengatasi masalah neorosis. Adapun aspek penting dari terapi behavioristik adalah bahwa perilaku dapat didefinisikan secara operasional, diamati dan diukur.

Konseling behavior adalah sebuah proses konseling (bantuan) yang diberikan oleh konselor kepada klien dengan menggunakan pendekatan-pendekatan tingkah laku (behavioral), dalam hal pemecahan masalah-masalah yang dihadapi serta dalam penentuan arah kehidupan yang ingin dicapai oleh diri klien. Konseling behavioral merupakan suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu (Surya, 2003).

Konseling behavior merupakan suatu teknik terapi dalam konseling yang berlandaskan teori belajar yang berfokus pada tingkah laku individu untuk membantu konseli mempelajari tingkah laku baru dalam memecahkan masalahnya melalui teknik-teknik yang berorientasi pada tindakan. Behavior berpandangan, pada hakikatnya kepribadian manusia adalah perilaku. Dimana perilaku tersebut merupakan hasil dari bentukan pengalaman interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya.

Behaviorisme sendiri adalah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 yang kemudian digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner. Behaviorisme lahir sebagai reaksi atas psikoanalisis yang berbicara tentang alam bawah yang tidak tampak. Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan.

Para ahli behavioristik memandang bahwa gangguan tingkah laku adalah akibat dari proses belajar yang salah. Oleh karena itu, perilaku dapat diubah dengan mengubah lingkungan lebih positif sehingga perilaku menjadi positif pula. Perubahan tingkah laku inilah yang memberikan kemungkinan dilakukannya evaluasi atas kemajuan klien secara lebih jelas.

Karakteristik Konseling Behavior 

Menurut Pihasniwati (2008), konsep utama dalam konseling behavior adalah keyakinan tentang martabat manusia yang bersifat falsafah dan sebagian lagi bercorak psikologis. Konseling behavioral berfokus pada perilaku manusia yang dapat dipelajari dan dapat dirubah. Adapun kondisi-kondisi pada manusia yang menjadi dasar dalam pelaksanaan konseling behavior adalah: 

  1. Manusia pada dasarnya tidak berakhlak baik atau buruk, bagus atau jelek. Manusia mempunyai potensi untuk bertingkah laku baik atau buruk, tepat atau salah berdasarkan bekal keturunan dan lingkungan (nativisme dan empirisme), terbentuk pola-pola bertingkah laku yang menjadi ciri-ciri khas kepribadiannya. 
  2. Manusia mampu untuk berefleksi atas tingkah lakunya sendiri, menangkap apa yang dilakukannya dan mengatur serta mengontrol perilakunya sendiri.
  3. Manusia mampu untuk memperoleh dan membentuk sendiri pola-pola tingkah laku yang baru melalui suatu proses belajar. Kalau pola-pola lama dahulu dibentuk melalui belajar, pola-pola itu dapat diganti melalui usaha belajar yang baru. 
  4. Manusia dapat mempengaruhi perilaku orang lain dan dirinya dipengaruhi oleh perilaku orang lain.

Tujuan Konseling Behavior 

Menurut Latipun (2008), tujuan konseling behavior adalah menciptakan suatu kondisi baru yang lebih baik melalui proses belajar sehingga perilaku yang negatif dapat dihilangkan serta mengubah tingkah laku adaptif dengan cara memperkuat tingkah laku yang diharapkan dan meniadakan perilaku yang tidak diharapkan serta berusaha menemukan cara-cara bertingkah laku yang baru.

Konseling behavior bekerja dengan memusatkan perhatian perilaku manusia pada yang nampak dan dapat dipelajari, tujuan yang ingin dicapai pada saat proses konseling harus jelas dan sesuai dengan prosedur yang ada, memusatkan perhatian pada masalah klien dan membantu dalam memecahkan masalah klien. Tujuan konseling behavior adalah mencapai kehidupan tanpa mengalami perilaku simtomatik, yaitu kehidupan tanpa mengalami kesulitan atau hambatan perilaku, yang dapat membuat ketidakpuasan dalam jangka panjang atau mengalami konflik dengan kehidupan sosial.

Sedangkan menurut Komalasari (2011), tujuan konseling behavior adalah sebagai berikut:

  1. Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar.
  2. Membantu konseli membuang respons-respons yang lama yang merusak diri atau maladaptif dan mempelajari respons-respons yang baru yang lebih sehat dan sesuai (adjustive).
  3. Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang maladaptif, memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan. 
  4. Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan bersama antara konseli dan konselor.

Menurut Surya (2003), untuk mencapai tujuan dalam konseling behavior, karakteristik konselor adalah sebagai berikut: 

  1. Konselor harus mengutamakan keseluruhan individual yang bertanggung jawab, yang dapat memenuhi kebutuhannya. 
  2. Konselor harus kuat, yakin, dia harus dapat menahan tekanan dari permintaan klien untuk simpati atau membenarkan perilakunya tidak pernah menerima alasan-alasan dari perilaku irrasional klien. 
  3. Konselor harus sensitif terhadap kemampuan untuk memahami perilaku orang lain. 
  4. Konselor harus dapat bertukar pikiran dengan klien tentang perjuangannya dapat melihat bahwa seluruh individu dapat melakukan secara bertanggung jawab termasuk pada saat yang sulit.

Teknik Konseling Behavior 

Perbedaan konseling behavior dibanding dengan metode yang adalah adalah pengembangan prosedur-prosedur terapeutik yang spesifik yang memiliki kemungkinan untuk diperbaiki melalui metode ilmiah. Dalam konseling behavior, teknik-teknik spesifik yang beragam dapat digunakan secara sistematis dan hasilnya bisa dievaluasi. Teknik-teknik tersebut bisa digunakan jika saatnya tepat untuk menggunakannya dan banyak diantaranya yang bisa dimasukkan kedalam praktek psikoterapi yang berlandaskan model-model lain.

Menurut Latipun (2008), teknik yang digunakan dalam konseling behavior adalah sebagai berikut:

 a. Teknik tingkah laku umum 

  1. Skedul penguatan adalah suatu teknik pemberian penguatan pada 
  2. Klien ketika tingkah baru selesai dipelajari dimunculkan oleh klien. Penguatan harus dilakukan secara terus-menerus sampai tingkah laku tersebut terbentuk dalam diri klien. 
  3. Shaping adalah teknik terapi yang dilakukan dengan mempelajari tingkah laku baru secara bertahap. Konselor dapat membagi-bagi tingkah laku yang ingin dicapai dalam beberapa unit, kemudian mempelajarinya dalam unit-unit kecil. 
  4. Ekstingsi adalah teknik terapi berupa penghapusan penguatan agar tingkah laku meladaptif tidak berulang. Ini didasarkan pada pandangan bahwa individu tidak akan bersedia melakukan sesuatu apabila tidak mendapatkan keuntungan.

 

b. Teknik-teknik spesifik 

  1. Desensitisasi Sistematik. Desensitisasi sistematik adalah teknik yang paling sering digunakan. Desensitiasi sistematik adalah teknik yang cocok untuk menangani fobia-fobia, tetapi keliru apabila menganggap teknik ini hanya bisa diterapkan pada penanganan ketakutan-ketakutan. Teknik ini diarahkan kepada klien untuk menampilkan respon yang tidak konsisten dengan kecemasan. Desensitisasi sistematik melibatkan teknik relaksasi dimana klien diminta untuk menggambarkan situasi yang paling menimbulkan kecemasan sampai titik dimana klien tidak merasa cemas. 
  2. Latihan Asertif. Pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif yang bisa diterapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakan yang layak atau benar. 
  3. Terapi Aversi. Teknik-teknik pengondisian aversi yang telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral yang spesifik, melibatkan pengasosiasisan tingkah laku simtomatik dengan suatu stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Stimulus-stimulus aversi biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang membuat mual. Kendali aversi bisa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan berbagai bentuk hukuman.
  4. Pengondisian Operan. Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif. Ia adalah tingkah laku beroperasi dilingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat. Tingkah laku operan merupakan tingkah laku yang paling berarti dalam kehidupan sehari-hari, yang mencakup membaca, berbicara, berpakaian, makan dengan alat-alat makan, bermain, dan sebagainya. 
  5. Penguatan Positif. Pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran atau perkuatan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul adalah suatu cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku. Penguatan positif adalah teknik yang digunakan melalui pemberian ganjaran segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul. Contoh penguatan positif adalah senyuman, persetujuan, pujian, bintang emas, mendali, uang, dan hadiah lainnya. Pemberian penguatan positif dilakukan agar klien dapat mempertahankan tingkah laku baru yang telah terbentuk. 
  6. Pencontohan. Dalam pencontohan, individu mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model. Belajar yang bisa diperoleh melalui pengalaman langsung bisa pula diperoleh secara tidak langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensi-konsekuensinya. Dalam teknik ini, klien dapat mengamati seseorang yang dijadikan modelnya untuk berprilaku kemudian diperkuat dengan mencontoh tingkah laku sang model. Dalam hal ini konselor, dapat bertindak sebagai model yang akan ditiru oleh klien. 
  7. Token Economy. Metode token economy dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh. Metode ini menekankan penguatan yang dapat dilihat dan disentuh oleh klien yang dapat ditukar oleh klien dengan objek atau hak istimewa yang diinginkannya. Token economy dapat dijadikan pemikat oleh klien untuk mencapai sesuatu. 

 

Langkah-langkah Konseling Behavior 

Tingkah laku yang bermasalah dalam konseling behavior adalah tingkah laku yang berlebih (excessive) dan tingkah laku yang kurang (deficit). Contoh tingkah laku yang berlebihan seperti merokok, terlalu banyak main game dan sering memberi komentar di kelas. Adapun tingkah laku yang deficit adalah terlambat masuk sekolah, tidak mengerjakan tugas dan bolos sekolah.

Tingkah laku excessive dirawat dengan menggunakan teknik konseling untuk menghilangkan atau mengurangi tingkah laku, sedangkan tingkah laku deficit dikonseling dengan menggunakan teknik meningkatkan tingkah laku. Menurut Komalasari (2011), tahapan dalam konseling behavior adalah sebagai berikut:

a. Melakukan asesmen (assessment) 

Tahap ini bertujuan untuk menentukan apa yang dilakukan oleh konseli pada saat ini. Asesmen dilakukan adalah aktivitas nyata, perasaan dan pikiran konseli. Terdapat enam informasi yang digali dalam asesmen yaitu: 

  1. Analisis tingkah laku yang bermasalah yang dialami konseli saat ini. Tingkah laku yang dianalisis adalah tingkah laku yang khusus. 
  2. Analisis tingkah laku yang didalamnya terjadi masalah konseli. Analisis ini mencoba untuk mengidentifikasi peristiwa yang mengawali tingkah laku dan mengikutinya sehubungan dengan masalah konseli. 
  3. Analisis motivasional.
  4. Analisis self kontrol, yaitu tingkatan kontrol diri konseli terhadap tingkah laku bermasalah ditelusuri atas dasar bagaimana kontrol itu dilatih atas dasar kejadian-kejadian yang menentukan keberhasilan self kontrol.
  5. Analisis hubungan sosial, yaitu orang lain yang dekat dengan kehidupan konseli diidentifikasi juga hubungannya orang tersebut dengan konseli. Metode yang digunakan untuk mempertahankan hubungan ini dianalisis juga. 
  6. Analisis lingkungan fisik-sosial budaya. Analisis ini atas dasar norma-norma dan keterbatasan lingkungan.

 b. Menentukan tujuan (goal setting) 

Konselor dan konseli menentukan tujuan konseling sesuai dengan kesepakatan bersama berdasarkan informasi yang telah disusun dan dianalisis. Fase goal setting disusun atas tiga langkah, yaitu: 

  1. Membantu konseli untuk memandang masalahnya atas dasar tujuan-tujuan yang diinginkan.
  2. Memperhatikan tujuan konseli berdasarkan kemungkinan hambatan-hambatan situasional tujuan belajar yang dapat diterima dan dapat diukur. 
  3. Memecahkan tujuan ke dalam sub-tujuan dan menyusun tujuan menjadi susunan yang berurutan.

 c. Mengimplementasikan teknik (technique implementation) 

Setelah tujuan konseling dirumuskan, konselor dan konseli menentukan strategi belajar yang terbaik untuk membantu konseli mencapai perubahan tingkah laku yang diinginkan. Konselor dan konseli mengimplementasikan teknik-teknik konseling sesuai dengan masalah yang dialami oleh konseli (tingkah laku excessive atau deficit).

 d. Evaluasi dan mengakhiri konseling (evaluation termination) 

Evaluasi konseling behavioristik merupakan proses yang berkesinambungan. Evaluasi dibuat atas apa yang konseli perbuat. Tingkah laku konseli digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi efektivitas konselor dan efektivitas tertentu dari teknik yang digunakan. Terminasi lebih dari sekedar mengakhiri konseling. Terminasi meliputi: 

  1. Menguji apa yang konseli lakukan terakhir. 
  2. Eksplorasi kemungkinan kebutuhan konseling tambahan. 
  3. Membantu konseli mentransfer apa yang dipelajari dalam konseling ke tingkah laku konseli.
  4. Memberi jalan untuk memantau secara terus menerus tingkah laku konseli.

Daftar Pustaka

Juntika, Nurihsan. 2003. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Bandung: Mutiara.

Chaplin, J.P. 2002. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafika Persada.

Surya, Mohammad. 2003. Teori Teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Pihasniwati. 2008. Psikologi Konseling. Yogyakarta: Teras.

Latipun. 2008. Psikologi Konseling. Malang: UMM Press.

Komalasari, Gantina, Dkk. 2011. Teori Teknik Konseling. Jakarta: Indeks.

 

Tidak ada komentar: